Sep
15
Filed Under (Uncategorized) by nyonthong on 15-09-2008

Ini semua salah Gadjah Mada. Patih dari Kerajaan Majapahit itu kurang teguh pendirian sih. Sumpah Palapa yang diikrarkannya demi menyatukan pulau-pulau yg kemudian disebut Nusantara kurang dilanjutkan upayanya. Dia malah sibuk ngurusin titah sang baginda, Hayam Wuruk, agar bisa menggaet putri dari Padjajaran di bumi pasundan untuk dipersuntingnya.

Alhasil, Gadjah Mada melulu berkutat di urusan pemenuhan ego raja Jawa itu ketimbang mewujudkan visi besarnya. Coba kalau Gadjah Mada ttp setia dengan perwujudan visinya, pastilah pulau-pulau di ekuator ini tersatukan, terutama dalam bahasa. Lalu, tidak menutup kemungkinan, ia ekspansi lagi ke benua di atasnya: daratan Cina dan kepulauan Jepang di Asia Timur, semenanjung India di Asia Selatan dan gurun-gurun Timur Tengah di Asia Barat. Tak berselang lama, pastilah Eropa yang dingin dan berselamut salju itu dikuasainya pula. Afrika yang luas dan ekstrem segera menyusul di pangkuannya juga.

Apa yg bisa terjadi setelah itu?

Read the rest of this entry »

Jul
30
Filed Under (Uncategorized) by nyonthong on 30-07-2008

Memang berat ujian buat orang yg mau berbuat sedikit lebih baik dari biasanya. Bahkan, utk urusan yg sepele sekalipun. Ceritanya, pagi ini aku bertekad datang ke kantor lebih pagi dari biasanya. Rata-rata aku datang jam 11an (di sini, untukku, jam segitu masih bisa disebut pagi.. what a wonderful jogja.. hehehe).

Pagi ini aku sudah di atas motor jam setegah 9 dan bayanganku selambat-lambatnya jam 9 aku sudah smp di mejaku. Itu artinya aku akan jd org pertama yg datang di kantor. Tapi, sepanjang jln aku “disiksa” perut yg sudah lapar. Hmm, alhasil ritual cari sarapan pagi di jln kulakukan juga. Herannya, warung2 yg biasa kudatangi masih tutup semua (Tuh kan, jam segini emang masih kepagian sih ^_^).

Tahu-tahu sudah sampai di depan kantor tp belum nemu warung yg ok utk kusinggahi. Daripada kelaperan di kantor smp siang, lebih baik aku cari warung dulu di daerah lain. “Toh blm jam 9 juga. Jd klopun mampir cari warung lain, aku masih ttp pagi tiba di kantor,” gitu pikirku.

Kubelokkan arah motorku ke daerah Palagan. Jadilah warung Soto Pak Fai 2 jd sasaranku. Untunglah sudah buka pagi ini. Soto sapi semangkuk, ditemani teh panas, dua tempe goreng kering dan sate telur puyuh jd pembangun mood baikku pagi ini. Yummy..

Tapi, di tengah2 asyiknya menikmati satu paket sarapan nikmat tsb tiba-tiba tanganku mendarat di saku belakang dan……busyeeet aku ga bawa dompet! Baru saja aku sadar klo pagi tadi aku ganti celana dan dompetku masih ada di saku celana jeans yg kugantung di kamar. Habis lah ini!

Kucari-cari di kantong tas, juga di sela-sela buku, tak kutemukan serupiahpun. Padahal, soto sudah hampir habis. Ga mungkin dong dibatalin. Tapi terus gmn bayarnya? Jarak rumah dari warung ini pun jauhnya minta ampun. Pikir-pikir agak lama - sambil nunggu pembeli yg lain pulang duluan biar ga terlalu malu - akhirnya kuberanikan diri ngomong ke mbak penjualnya. Tentu saja sambil pasang tampang meringis menahan malu. Sambil menyiapkan juga barang2 yg bisa ditinggal jd jaminan: ada jam tangan, hp, dan tas berisi laptop. Hmm yg mana ya yg ditinggal?

“Oh gpp mas, nyantai aja,” ujar si mbak sambil pasang senyum tulus setelah aku bilang lupa ga bawa dompet. Ahh, legaa. Untung juga kartu ATM kubawa dan ada di tas. Jadi, aku bilang ke dia aku akan ke-ATM sbntr terus balik lagi ke warung. Si mbak senyum lagi dan aku ga perlu ninggal barang segala.

Tapi, cerita belum usai. Sampai di ATM terdekat, cuma 2 menit dari warung, eh….mesinnya rusak. Aduuuuh, apalagi ini. Akhirnya aku harus cari ATM lain dan adanya ya agak jauh dari situ. Alias kembali ke arah jalan berangkat tadi. Setelah berhasil menemukan ATM, aku balik lagi ke warung. Langsung deh kubayar yg tadi. Si mbak juga masih pasang senyum tulus (ahhh, nikmatnya jogja.. lagi).

Dari situ aku langsung ngeluyur ke kantor. Dan, tentu saja aku gagal jd yg pertama datang karena sdh ada dua orang yg lain. Satu jam sudah kuhabiskan utk mengurusi gara-gara “dompet yg tertinggal”. Jam 10an aku tiba di kantor dan itu biasa buatku. Hmm, memang susah klo mo berubah. Niat baik aja ga cukup. Perlu tekad luar biasa ditambah tindakan nyata, dan tentu saja plus jangan ada dompet yg tertinggal ;)

Jul
22
Filed Under (Uncategorized) by nyonthong on 22-07-2008

Modernisasi biasanya dekat dengan segala hal yang berbau lebih. Bisa lebih cepat, lebih instan, lebih massif, lebih efisien. Termasuk utk urusan sarana transportasi bagi warga kota. Tapi, apa selalu yg lebih-lebih itu harus jadi ukuran sebuah kemodernan. Aku kok ga percaya.

Yg lebih penting adl gimana pertumbuhan dan modernitas juga harus sejalan dengan pertumbuhan peradaban yg berperikemanusiaan, lebih memanusiakan manusia. Jadi, klo sepeda sering dianggap sebagai penanda ke-kuno-an, ketidak-efisienan, kemelaratan, rasa-rasanya ini sebuah kekeliuran amat besar. Nggak percaya? Simak aja coretanku lebih jauh DI SINI (http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/07/20/01263849/selama.mengayuh.copenhagen.tak.pernah.terasa.jauh)

Atau, yg ingin melihatnya dlm versi serupa hardcopynya, bisa klik juga DI SINI (http://epaper.kompas.com) dan silakan cari di bagian Back Issues utk edisi Minggu, 20 Juli 2008. Selamat menyelami makna modern, semoga kita menjadi bagian dari warga kota yg dimanusiakan selalu.

Jun
16
Filed Under (Uncategorized) by nyonthong on 16-06-2008

Kesamaan kosakata antara berbagai bahasa di dunia adl hal lazim. Terutama kalau bahasa-bahasa tsb dari bangsa yg masih serumpun. Atau minimal jaraknya relatif berdekatan. Baik itu yg punya arti sama, maupun yg tertulis sama tapi maknanya berbeda. Itu juga yg kutemui saat 80 orang dari 37 negara berkumpul di sebuah acara di Kopenhagen, Denmark, akhir Mei lalu.

Meski saban hari harus ber-cas…cis..cus dlm bhs Inggris, topik obrolan sesama peserta konferensi yg paling laris manis bukanlah isu-isu dlm konferensi, melainkan membandingkan bahasa asal. "How to say ‘hello’ in Bahasa Indonesia?" adalah pertanyaan umum yg sering kudengar. Atau, menanyakan bhs Indonesianya ‘thank you’. Lalu, satu sama lain mulai berbagi dan membandingkan dgn bhs asal di masing-masing negara.

Dari obrolan2 macam itu kudapatlah pengalaman baru. Misal, ternyata kata ’selamat’ juga dimiliki org Filipina dlm bhs Tagalog mereka. Cuma berbeda artinya, bukan sebuah ucapan gratitude, tetapi berarti ‘terima kasih’. Banyak lagi contoh yg macam begini. Begitu juga sesama pengguna bhs2 di Eropa, terutama yg wilayah dan kebudayaannya berdekatan.

Sampai saat itu, kusimpulkan bahwa bangsa2 yg relatif berdekatanlah yg memiliki kecenderungan demikian. Tapi, kesimpulanku ga bertahan lama. Suatu hari di lobi hotel tmpku menginap, Cab Inn Scandinavia, ada rak di bawah telp umum yg berisi tumpukan koran. Bukan korannya yg menarik perhatianku, tapi plang tulisan di atasnya yg bertuliskan begini: G R A T I S.

Sehari sebelumnya, sudah kuketahui bahwa koran2 tertentu di Kopenhagen memang tidak dijual. Tapi, dibagi gratis. Ada banyak orang semacam pengasong dan loper yg berdiri di tepi jalan. Bukan menawarkan koran dagangannya, tetapi membagi-bagi gratis koran tsb. Dalam sehari mereka dikenai target untuk membagikan koran2 tsb dlm jumlah tertentu. Herannya, enggak semua orang yg lewat mau menerima. Hanya mereka yg merasa perlu saja yg mau. Untung bukan di sini ya, barang gratisan pasti laris manis. Jangankan koran, peniti aja dikeroyok orang klo gratisan. Hehehehee…

Balik ke lobi hotel tadi. Ternyata koran yg ada di situ juga termasuk jenis yg dibagi gratis ke warga. Tapi, kenapa tulisan di raknya juga GRATIS? Aku tanya2 ke salah satu peserta dari Denmark, and they said, "It’s mean free, dude."
"Free?" tanyaku balik dengan pasang tampang keheranan.

Dengan nada serius, ia menjelaskan bahwa itu lazim di Denmark. Koran memang ada yg dibagi gratis. Tapi, aku sdg ga tertarik membahas soal koran yg dibagi gratis. Melainkan soal kata gratis itu sdr yg ternyata juga mereka miliki. Aku terangkan balik hal ini ke tmn Denmark-ku. "Hey bro,…" (hwalah, malah kayak org mo nge-rap). Pakai bhs Indonesia aja ya, "Gini lho dude, bla…bla…bla…"

Begitulah, akhirnya giliran dia yg melongo. Ga nyangka klo dua negeri yg terpisah jauh ini, Indonesia dan Denmark, ternyata memiliki kosakata yg sama utk menyebut gratis. Ya, free itu tadi. Gratis = Gratis.

Aku enggak sempat cari tahu lebih jauh apakah bhs Belanda juga punya kosakata yg sama atau mirip-mirip utk menerangkan hal ini. Klo ya, bisa jadi memang bhs Ind yg menyerap kosakata tsb dari bhs Belanda. Tapi, sejauh mata memandang, aku hanya menemukan kata Gratis di Kopenhagen dan tak sekalipun kulihat di Amsterdam. Paling enggak di bandaranya. Mungkin ada yg tahu apa bhs Belandanya gratis? Klo ternyata beda bgt, nah…aku makin heran. Kenapa bhs Denmark yg lebih dekat dgn rumpun di Skandinavia itu punya satu kosakata yg sama dgn bhs Indonesia dari rumpun Melayu ini.

Nah, buat yg sering searching gambar-gambar po**o gratisan lewat Mbah Google sekarang terjelaskan nih. Terutama kenapa sering nyasar ke web-web dgn bhs dan tulisan yg ga jelas. Itu enggak lain adl web-web dari Denmark, juga bbrp negara lain yg memang memiliki kata gratis dgn makna yg sama. Pasti bakal nyasar kesitu ketika mengetikkan entry yg ada kata gratisnya di Mbah Google. Misal, "gambar bu**l artis Indonesia +gratis" atau "gratis gambar artis tel*****g". Nah, ketauan deh lu. Huahahaaaa….

May
24
Filed Under (Uncategorized) by nyonthong on 24-05-2008

Mengapa celana jeans cenderung lebih awet dan lebih lama usia pakenya?
Mungkin karena jeans diciptakan Tuhan ada unsur tanahnya spt manusia. Sementara, syetan diciptakan dari unsur api. Ooops, sori itu jin, bukan jeans. ^_^

Kalau jeans…, entahlah. Yg pasti frekuensiku beli celana memang jadi lama. Satu celana jeans bisa bertahan 2 sampai 3 tahun dan baru merasa perlu beli lagi setelah selama itu. Selain karena mahal, alasan lain adalah karena usia pake celana ini memang lumayan lama. Bahkan, setelah 3 tahun terakhir aku hanya bercelana jeans - ga pernah lagi pake celana bahan katun/kain selain jeans - celana koleksiku ttp masih bertahan.

Tapi, semua memang ada masanya. Celana jeans juga kenal uzur. Ketika masa untuk mengganti yg baru datang, minggu lalu aku lsg sibuk cari diskonan (tetep, mental kerenya jalan, semangat diskon.. hehehe).

Selain karena penampakan yg sudah uzur, celana-celanaku juga mulai sesak, terutama di pinggang. Wajar, ukuranku pasti sudah naik. Terakhir beli masih ukuran 30. Walhasil, ketika ketemu barang yg cocok (sesuai model dan bahannya, cocok juga diskonnya, hihihi), aku segera coba di fitting room.

Kebetulan yg kubawa ukuran 31. "Ah, paling juga naik ukurannya jadi 31," pikirku waktu itu. Tapi, apa yg terjadi? Masuk aja ga di pinggang. Aku minta lagi ke SPG-nya, "Minta yg 32, Mbak. Mungkin satu ukuran di atasnya."

Sampai di depan cermin kamar pas, ukuran 32 bisa berhasil masuk sampai atas, sampai pinggang maksudnya. Tapi, pahaku terjepit ga keruan. "Busyet, masa minta yg 33?" batinku. Ah, tapi demi kenyamanan harus kucoba. Masa beli mahal-mahal tapi ga nyaman kan ga enak.

Ukuran 33 sudah di tangan, 3 celana jeans sudah di kamar pas. Oops, tetap belum pas. Kancingnya sudah bisa dikatupkan, tapi sesak sekali. Paha? Jangan tanya. Tetap masih lekat. Waduh, coba yg di atasnya dong?!

"34 ada, Mbak?" pintaku sambil cengar-cengir. Tanpa banyak bicara, dia sodorkan ukuran itu. Aku coba lagi, "Ahh, lega. Ini baru masuk. Tapi, 34…?!!"

Hayu yg mendampingiku malam itu cuma mesam-mesem. Entah apa arti eseman itu. Barangkali, "Makanya Mas, beli celana jaraknya jangan lama-lama." Atau, "Waduh, belum nikah aja sudah ndut begini, gimana entar ya..?"

34..? Yup, that’s my size now. Jadi, kalau ada yg mo kasih kado celana, please jangan kasih yg di bawah itu ya. Percuma, ga bakal masuk deh  ;)

May
24
Filed Under (Uncategorized) by nyonthong on 24-05-2008

Sambungan…

Fyuuh, setelah 3 kali kontrol plus sekali rontgen, beres juga lubang
itu ditangani. Tapi, masalah belum kelar: aku harus operasi! Ada dua
gigi geraham dewasa yg tumbuh horisontal dan berpeluang bikin masalah
baru. Ini rekomendasi atas hasil rontgennya.

Meski dokter bilang ini operasi kecil, ttp aja kedengarannya bukan sesuatu yg kecil di telingaku. Operasi je. Setelah atur waktu ini-itu, akhirnya disepakati operasi bisa ditunda sepulangku nanti. "Operasinya sehari saja kok, tapi biasanya butuh masa penyembuhan paling ga seminggu baru agak enak," ni dokter kok malah makin bikin panik aja.

Alhasil, urusan tambal gigi yg jadi prioritas. Sementara, membersihkan karang gigi dan operasi gigi ditunda dulu. Untuk begitu saja aku sudah harus merogoh saku sampai Rp 348.000. Rinciannya, kontrol pertama 37.500, kedua, 47.500, ketiga sekaligus menambal 183.000, dan rontgen 80.000.

Berhubung selalu keluar duit, pelayanan yg kuterima pun jadi lumayan. Mereka ramah-ramah dan melayani penuh. Ya jelas, lha wong bawa duit. Coba kalo ga ada duitnya, pasti pada cemberut dan bikin gigiku tambah ngilu. Begitulah kisah si gigi yang lama tak diperhatikan, tapi tahu-tahu langsung menyita penuh perhatian empunya.

Jadi, moral cerita ini ada dua. Pertama, siapa bilang sakit gigi lebih enak daripada sakit hati? Salah besar, tahu!!

Kedua, jangan sekali-kali periksa gigi sewaktu kelas 4 SD. Karena, akan kena batunya 15 tahun kemudian: sakit gigi, sekaligus terkuras isi dompetmu hingga bertubi-tubi. Heheheeee…

May
24
Filed Under (Uncategorized) by nyonthong on 24-05-2008

Apakah setiap orang yg akan ke luar negeri agak lama harus berurusan dgn gigi dulu?
Hmm, entahlah, bisa jadi begitu. Yg jelas aku nemu bukti untuk kesekian kalinya kalo jawabannya memang iya.

Bbrp tahun lalu, temanku harus "ngeberesin" gigi-gigi di mulutnya
jauh-jauh hari sebelum berangkat ke Austria. "Dokter gigi di sana mahal," katanya. Dulu aku cuma geleng-geleng kepala ga habis pikir. "Ngapain juga bela-belain bener ngurusin gigi thok sebelum berangkat ke luar," pikirku dulu.

Tapi, sebulan terakhir aku bener-bener ga bisa geleng kepala. Pasalnya, kini giliran ggiku yg bermasalah. Tiba-tiba ngilu ga keruan. Makin malam makin ngilu. Ga bisa tidur, ga bisa mikir, kentut aja gigi jadi ikut sakit (loh apa hubungannya?).

Dan, jadwal keberangkatanku juga tinggal berjarak dekat. Busyet, jangan sampai deh di negeri orang cuma ngabisin waktu buat ngurus gigi yg sakit. Alhasil, kusamperin juga salah satu klinik gigi di dekat kantor. Kebetulan ada praktik bersama sejumlah dokter gigi.

"Sudah lama ya ga ke dokter gigi?" tanya dokter Sapta, ’si penguasa keputusan’ atas gigiku malam itu.
"Iya dok, lama banget," kataku lirih.
"Berapa lama, setahun?" Aku geleng kepala pelan.
"Dua tahun?" cecar sang dokter.
"…," Aku cuma nyengir.

Aku memang baru sekali ke dokter gigi, duluuuu banget: kelas 4 SD. Hehehe… Setelah tahu begitu, kontan sang dokter cuma nyeletuk ringan dengan makna yg jelas arahnya ke mana, "Enggak apa-apa, masih orang Indonesia kan?"
Walah, nadanya kok nyengiti. Sindirannya kena banget, nylekit.

Periksa sana periksa sini, tekan sana tekan situ, ketauan deh gigiku berlubang. Gede dan sudah sampai akar. Dokter juga menemukan keanehan kenapa gigiku masih byk yg gigi susu. Segera saja dia minta aku harus rontgen utk melihat semua struktur gigi di mulutku. Dia curiga jangan2 ada gigi yg sudah menunggu tumbuh tapi masih tertahan. Waduh, urusan gigi bisa sampai rontgen segala nih.

Bersambung…

Mar
03
Filed Under (Uncategorized) by nyonthong on 03-03-2008

17 Februari 2008. Ada beberapa pengalaman baru yg datang di hari itu. Ada juga yg  enggak cuma baru, tapi sekaligus bikin haru.

Pertama, hari itu adalah debut awal Trans Jogja beroperasi. Moda transportasi baru di Jogja ini mulai menjalankan program ujicobanya hari itu. Senin keesokan harinya, bus ber-AC yg berhenti di shelter tertentu ini mulai beroperasi utk umum. Dua minggu masa ujicoba, penumpang bisa ‘mencicipi’ pengalaman baru jadi warga kota yg dihargai pengurus kotanya. Dengan membeli tiket seharga Rp 1.000 (dari harga tiket normal Rp 3.000), enggak heran kalau banyak yg menyerbu. Meski, kebanyakan motifnya lebih psikologis ketimbang fungsional, yaitu gumun atawa kagum thd sesuatu yg baru, yg menarik perhatian yg sejuk segar tak terkira.

Kebanyakan orang membanding-bandingkannya dgn Trans Jakarta yang lebih dulu beroperasi sejak Januari 2005 silam. Tapi, berkali-kali sudah kusinggung, terakhir lewat tulisanku bbrp waktu lalu, bahwa jangan membanding-bandingkannya. Karena memang beda: berbeda semangat, berbeda tujuan, berbeda pula budaya/peradaban yg ingin dicapainya.

Usulku dulu, mbok ya namanya jgn dibuat mirip supaya ga mudah memicu perbandingan dgn yg di Jakarta. Tapi ternyata tetap, Trans Jogja. Ya sudah, yg penting segala hal lainnya berbeda: semangat awalnya adalah membangun peradaban, bukan mencari celah nafas dalam kelindan kemacetan dan amburadulnya transportasi kota ala Jakarta; tujuannya utk menemukan solusi transportasi bagi publik perkotaan yg efisien tp tetap manusiawi, bukan sekadar menjadi problem baru yg menambah keruwetan.

Dalam pelaksanaannya selama lebih dari 2 minggu ini, memang, Trans Jogja masih punya kurang di sana-sini. Tapi, semoga ini semua cepat disadari dan dirasakan, jadi cepat juga dicari solusi-solusi strategis dan praktisnya. Yg jelas, karena ada Trans Jogja, aku jadi lebih rajin jalan kaki. Minimal jalan menuju shelter dari rumah atau dari satu shelter ke shelter lainnya. Jalan kaki ternyata bukan sesuatu yg menyiksa benar seperti dibayangkan sebelumnya saat kita masih manja ke mana-mana dengan sepeda motor atau mobil pribadi. Ayo, jalan kaki!

Pengalaman baru kedua di hari itu sama sekali ga ada hubungannya dgn soal perkotaan. Ini soal di dalam: di keluarga, di dalam batin masing-masing orang yg terlibat. Hari itu, dua keluarga yg satu sama lain semula asing, akhirnya bertemu. Bertandang, bertegur sapa, haha-hihi kesana kemari, nyamol thiwul dan gathot, sampai akhirnya mengutarakan satu tujuan yg pasti. Yang, alhamdulillah, langsung pula direspons dengan satu jawaban pasti!

Semula asing, kini jadi saling merindukan. Mulanya terpisah jauh, sekarang saling mengeratkan. Awalnya bimbang, kini tumbuh keyakinan, bersama pula.
Begitulah bila sesuatu yg baru bukan sekadar anyar, tp juga membawa keharuan tersendiri tanpa perlu ingar-bingar.

Fyuuuh, lega jadinya…

Nov
25
Filed Under (Uncategorized) by nyonthong on 25-11-2007

Fucking_shirt_pssi_1_1

Nah, ini dia desain lengkap kaosnya.
Silakan mo pilih yg di atas ato yg di bawah ini:

Fucking_shirt_pssi_2

Nov
21

Kesemrawutan pengelolaan sepakbola Indonesia sudah benar-benar menemukan titik kulminasinya. Tinggal hitungan hari saja Indonesia akan ketiban sanksi dari FIFA yg akan bersidang Desember mendatang. Semua ini tak lain dari buah kebebalan luar biasa para pengurus PSSI, Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia, yang semestinya jadi pengayom dan pembina pembangunan karakter bangsa lewat olahraga sepakbola tapi justru berperan sebagai perusaknya.

Ini bukan soal mencari kambing hitam atas mandek dan mampetnya prestasi olahraga bola sepak di negeri ini. Tapi, memang begitulah realitasnya. Buat yg sehari-hari bersinggungan dengan PSSI, entah itu atlet, pelatih, wartawan olahraga, bahkan birokrat di KON/KOI (dulu KONI) dan kementerian olahraga, pasti sudah gondok enggak ketulungan dengan sesat pikir yg berlarut-larut dilakukan orang-orang berjaket PSSI di Senayan sana.

Kalau sekarang ada ribut-ribut soal tuntutan mundur Nurdin Halid dari kepemimpinan arogannya - itupun dilakukannya dari balik jeruji penjara sbg tervonis atas tindak korupsi - sebenarnya ini baru puncak gunung es masalah yg jauuuuuuuuuuuh lebih banyak. Stop mereka sekarang juga!

JADI?
Jangan lanjutkan kebobrokan PSSI.
Jangan biarkan cecurut-cecurut mengelola olahraga harapan rakyat.
Jangan kandaskan impian anak-anak kita yg ingin jadi pemain top dunia, tapi justru terjerat di kompetisi abal-abal dan penuh tipu-daya.
Hentikan PSSI segera!

BAGAIMANA?
Tendang mereka keluar dari sepakbola Indonesia!
Tendang sejauh-jauhnya!
Let’s Kick PSSI Out of Football

SIAPA?
Kawan-kawan yg berpikiran serupa di Jogja sudah menyiapkan kampanye kontinyu ttg hal ini.Saat ini, kami ingin menyentuh publik yg lebih luas termasuk di luar komunitas sepakbola: siapa saja yg peduli thd perbaikan arah laju bangsa yg masih dipimpin para birokrat bobrok ini.

LALU?
Fuck_pssiSalah satu media kampanye kami saat ini adalah kaos. Gunakan kaosnya, rasakan spirit perubahan dengan mengenakannya, dan sebarkan pesan perubahan tsb kepada siapa saja yg masih menyimpan rasa kepedulian.
Kaos tersedia dalam satu ukuran (all size), warna dasar putih, dengan desain spt gambar di samping yg tertera pada dada sisi kiri dan punggung atas sisi kanan kaos. Ingin segera pesan? Silakan kontak kemari:

Zaki Habibi
sms/telp :  0815 685 4334
email      :  ini_zaki@lycos.com

Pesan kaosnya sekarang juga, maka kamu turut andil dalam langkah kecil menuju perubahan besar!